Sumber Harta Haram Dalam Islam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih tahu tentang ilmu dunia dibandingkan para shahabatnya.[1]

Di antara buktinya adalah hadits dari Anas tentang mengawinkan kurma. Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma jadi baik, wahai Rasulullah!”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ

“Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.”

Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

مَا لِنَخْلِكُمْ

“Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?”

Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kita begini dan begitu…” Kemudian

beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”  (HR. Muslim, no. 2363)


Dari hadith tersebut banyak ulama berfatwa yang substansinya seperti ini,
“muamalat itu halal sampai ada dalil larangannya“
(Kebalikan dari hukum beragama : haram sampai ada dalil yang membolehkannya)

Diantara fatwa tentang muamalat seperti yang disebutkan diatas, misalnya..


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

أَنَّ الأَصْلَ فِي المُعَامَلاَتِ الحِلُّ وَالصِحَّةُ مَالَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى التَّحْرِيْمِ وَالفَسَادِ

“Sesungguhnya hukum asal dalam muamalat adalah halal dan sah selama tidak ada dalil yang menunjukkan diharamkan dan menunjukkan rusaknya.” (Syarh Al-Mumti’, 9:120)

Lalu beliau melanjutkan,

مَا دَامَ لَيْسَ فِيْهِ ظُلْمٌ وَلاَ غَرَرٌ وَلاَ رِبًا فَالأَصْلُ الصِحَّةُ

“Selama dalam akad tidak terdapat unsur kezaliman, gharar (ada unsur ketidakjelasan), dan riba, maka akad tersebut sah.” (Syarh Al-Mumthi’, 9:120) [2]

Selanjutnya kita akan ulas fatwa diatas menunjukkan pelarangan Zalim, Gharar dan Riba tersebut, karena umumnya keharaman mencari rezeki itu secara general berputar seputar tiga hal itu!


Ulasan Zalim, Gharar, dan Riba dalam Muamalat


ZALIM

Secara Etimologi (bahasa), Zhulm berasal dari bahasa Arab yang berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan dengan berbuat zalim.

Secara Terminologi (istilah), Zalim berarti : mengerjakan larangan serta meninggalkan perintah Allah, maka setiap perbuatan yang melampaui ketentuan syariat adalah perbuatan zalim yang diharamkan, baik dengan cara menambah atau mengurangi.

Lawan kata zhulm adalah adl. Adl dalam bahasa Indonesia berarti berbuat adil.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا

“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim’” (HR.  Muslim no. 2577).

Oleh karena itu, haram hukumnya seseorang menzhalimi orang lain, sekalipun orang yang dizhalimi adalah non-Muslim.

Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”. (Al Maidah:8).[3|40-41]

Ada banyak muamalat yang terbebas dari riba dan gharar akan tetapi memiliki unsur kezaliman, muamalat ini tetap diharamkan dan harta yang dihasilkan merupakan harta haram.

Contoh bentuk muamalat yang diharamkan karena mengandung untuk kezaliman menjual najis, menjual barang-barang dan jasa yang diharamkan, monopoli, korupsi, kolusi, penipuan, pemalsuan merk dagang, dan lain sebagainya.[3|42]


GHARAR

Secara Etimologi (bahasa), Gharar dari bahasa Arab yang berarti : resiko, tipuan, dan menjatuhkan diri atau harta ke jurang kebinasaan.

Secara Terminologi (istilah), para ahli fiqh, gharar berarti: jual beli yang tidak jelas kesudahannya. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan: jual-beli yang konsekuensinya antara ada dan tidak.

Misalnya: Penjual berkata, “Aku jual barang yang ada di dalam kotak ini kepadamu dengan harga Rp100.000,00”. Penjual tidak menjelaskan isi kotak dan pembeli pun tidak tahu fisik barang yang berada di dalam kotak.

Akad diatas mengandung unsur untung-rugi (spekulasi). Bila salah satu pihak mendapat keuntungan maka pihak lain mengalami kerugian, inilah hakikat gharar.

Pembeli kotak yang tidak mengetahui isinya dengan harga Rp100.000,00 mungkin mendapat untung jika ternyata isi kotak adalah barang seharga Rp130.000,00 dan mungkin mengalami kerugian jika ternyata isinya hanya seharga Rp90.000,00.[4|243]

Dengan dasar larangan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah yang berbunyi:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar”.[4|1]

Dalam sistem jual beli gharar ini terdapat unsur memakan harta orang lain dengan cara batil.
Padahal Allah melarang memakan harta orang lain dengan cara batil sebagaimana tersebut dalam firmanNya.

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” [Al-Baqarah / 2 : 188][4]


RIBA

Secara Etimologi (bahasa), Riba dalam bahasa Arab berarti “bertambah”. Maka segala sesuatu yang bertambah dinamakan riba.

Secara Terminologi (istilah),
Riba berarti menambah beban kepada pihak yang berhutang (dikenal dengan riba dayn) atau
menambahkan takaran saat melakukan tukar menukar 6 komoditi (emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam) dengan jenis yang sama, atau tukar-menukar emas dengan perak dan makanan dengan makanan dengan cara tidak tunai (dikenal dengan riba Ba’i).[5|387]

Dari Ubadah bin ash-Shamit ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هذِهِ اْلأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam (hendaklah dijual) dengan timbangan yang sama, persis dan langsung diserah terimakan (kontan). (Namun) jika berlainan jenisnya maka juallah semau kalian asal ada serah terima.” [5]

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ فَأْذَنُوا۟ بِحَرْبٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَٰلِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Al-Baqarah : 279)


Catatan Kaki :
[1] https://rumaysho.com/13101-ilmu-dunia-engkau-lebih-paham.html
[2] https://rumaysho.com/23499-harta-haram-itu-sumbernya-dari-zalim-riba-dan-gharar.html
[3|40-41]
“Harta Haram Muamalat Kontemporer” Cetakan Ke-21 Penulis Dr.Erwandi Tarmizi, MA hal 40-41.
[3|42]
“Harta Haram Muamalat Kontemporer” Cetakan Ke-21 Penulis Dr.Erwandi Tarmizi, MA hal 42.
[4|243]
“Harta Haram Muamalat Kontemporer” Cetakan Ke-21 Penulis Dr.Erwandi Tarmizi, MA hal 243.
[4] almanhaj.or.id tentang jual beli gharar.
[4|1] HR Muslim, Kitab Al-Buyu, Bab : Buthlaan Bai Al-Hashah wal Bai Alladzi Fihi Gharar, 1513
[5|387]
“Harta Haram Muamalat Kontemporer” Cetakan Ke-21 Penulis Dr.Erwandi Tarmizi, MA hal 387.
[5] Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 949)], Shahiih Muslim (III/1211, no. 1587 (81)) Referensi:almanhaj.or.id

abdulbadi

Simply The Best!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *