Branding – Marketing – Selling | Apa Bedanya?
Kapan hari saya buka youtube.com, dan kebetulan saya lihat video webinar dengan judul yang menarik perhatian saya “BRANDING MARKETING SELLING, APA BEDANYA?” Saya coba buka,.. eh ternyata bintang tamunya Pak Subiakto Priosoedarsono atau biasa dipanggil Pak Bi , yang jadi hostnya Kang Dewa Eka Prayoga. Bay de Way Udah pada tau Pak Bi? Wait, coba perhatikan background tulisan dibelakang foto Pak Bi dibawah ini,

Siapakah beliau?
Netizen menjuluki beliau Pakar Branding. Tapi faktanya beliau adalah Praktisi Branding yang sudah berpengalaman 50 tahun membuat dan membesarkan Brand. Membantu Client menemukan Brand DNA, Brand Core Value, Brand Added Value dan Brand Positioning.
Beliau cukup beruntung mendapat kesempatan membesarkan Brand – Brand Nasional yang sekarang mendunia seperti Indomie, Kopiko, dan Torabika.
Dan membantu memperkuat Brand MacDonald’s di Indonesia dengan taglinenya “Manalagi selain di McD”.
Serta berkesempatan membranding beberapa pemimpin Indonesia seperti Presiden 2004-2009, SBY-JK dan Gubernur DKI 2007-2012 Fauzibowo
(dikutip dari subiakto.com)
Gimana ? ngeri kan gaes?
Berikut Isi Catatan versi saya tentang webinar itu!
Definisi Branding, Marketing, Selling dan kesamaannya.
Brand secara bahasa artinya merk, kalau ditambah “ing” jadinya kata kerja “Branding”, maksudnya gimana? Branding itu menancapkan apa yang mereka lihat, dengar, rasakan tentang produk (barang/jasa) yang kita jual.
Kalau Marketing itu adalah aktivitas segmentasi, target, dan positioning topik ini sudah pernah kita bahas dalam artikel ini “Cara Meningkatkan Omset!” atau singkatnya optimisasi peta penjualan.
Sedangkan Selling itu ya aktivitas penjualan yang bertujuan menghasilkan omset.
Jadi aktivitas Branding itu terdapat dalam aktivitas Marketing pada saat melakukan positioning dan Selling pada proses closing, bahkan dalam prosesnya seringkali di uji dalam scope stakeholder, karyawan, hingga vendor di setiap lini kegiatan.
Fungsi sekaligus beda-nya.
Branding yang baik menghasilkan
Loyalitas, dan Asset tak berwujud didalam fikiran konsumen, seperti reaksi, emosi, presepsi, intuisi, insting yang muncul.
Marketing (optimisasi peta penjualan) yang optimal menghasilkan
Demand (permintaan), bersifat Interaksi, dan banyak mengadopsi istilah – istilah dalam perang seperti campaign (serangan), lounching (lounching missile), strategi. Itulah mengapa jika ingin menang dalam peperangan kita membutuhkan alat bantu map/peta.
Selling yang hebat menghasilkan
Transaksi dan Asset berwujud.
Arena Pemasaran
Arena Level 1.0
Lapangan perangnya di area 4P (Produk, Price, Place, Promotion), metode perangnya kalau gak adu kualitas, ya adu harga. Biasanya berdarah – darah ini …
Arena Level 2.0
Lapangan perangnya di handling costummer, metode perangnya adu Sistematis.
Arena Level 3.0
Lapangan perangnya berfokus ke Jatidiri. Metode perangnya biasanya adu brand ambasador, populer (artis) kah dia atau expertise (ahli) kah dia.
Arena Level 4.0
Lapangan perangnya berfokus pada fans fanatik. Metode perangnya dari Ideology & History.
Pengaruh Brand dalam Pembetukan Harga Jual :
Metode 1 =>Biaya + Margin Profit
Metode 2 Riset Harga Kompetitor,
Metode 3 Biaya + Margin Profit + Trust Cost (Brand)
Secara filosofi, ibarat bola lemparanya itu branding pantulannya itu brand, atau bisa juga ibarat makanan, makanannya masuk ke mulut, rasanya masuk ke kepala! Semoga Bermanfaat!
Catatan Kaki :
Video Webinar ala Pak Subianto | Host Dewa Eka Prayoga

